Infantino Mengusulkan 64 Tim Sebelum Final 2026 Ditiup, Itu Sudah Menjawab Segalanya
Peluit final Piala Dunia 2026 bahkan belum ditiup, dan Gianni Infantino sudah menanyakan apakah edisi 2030 sebaiknya diisi 64 tim. Perhatikan urutannya, karena urutan itu adalah seluruh ceritanya: usulan perluasan datang sebelum siapa pun sempat menilai apakah perluasan sebelumnya berhasil.
Faktanya begini. Presiden FIFA menyebut isu ini "jelas akan dikaji dan didiskusikan di komite-komite terkait setelah Piala Dunia ini". Ia berargumen FIFA tak boleh hanya mempertimbangkan Eropa dan Amerika Selatan, dan menyodorkan bukti keberhasilan format 48 tim. Presiden CONMEBOL sekaligus Wakil Presiden FIFA, Alejandro Dominguez, menyambutnya sebagai mimpi yang menyatukan dunia pada perayaan 100 tahun Piala Dunia 2030. Di seberang, Presiden UEFA Aleksander Ceferin sudah menolaknya sejak April, menilainya merusak kualitas turnamen dan kompetisi kualifikasi, didukung Presiden CONCACAF Victor Montagliani. Bila 64 tim disetujui, lebih dari seperempat dari 210 anggota FIFA akan tampil di putaran final. Dirangkum dari pemberitaan JPNN, Bola.com, Medcom, dan Antara.
"Semua Benua Mencetak Gol" Bukan Ukuran Kualitas
Inilah bagian argumen Infantino yang paling lemah, dan anehnya paling sering diulang. Menyebut bahwa tim dari setiap benua mencetak gol dan meraih poin sebagai bukti keberhasilan adalah logika piala partisipasi. Tentu saja ada yang mencetak gol, kamu menambah tim, kamu menambah pertandingan, kamu menambah gol. Itu aritmetika, bukan mutu.
Pertanyaan yang tidak dijawab siapa pun: apakah format 48 tim menghasilkan pertandingan yang lebih baik? Bukan lebih banyak, lebih baik. Dan kita bahkan belum punya data lengkapnya, karena turnamennya belum selesai.
Ini Bukan Soal Negara Kecil
Bahasa Infantino idealis: jangan cuma pikirkan Eropa dan Amerika Selatan. Kami akan lebih menghormati argumen itu kalau ia datang bersama proposal untuk mendanai akademi, pelatih, dan kompetisi di negara-negara yang katanya diperjuangkan.
Yang diusulkan bukan pembangunan, melainkan undangan. Dan undangan itu punya nilai komersial yang sangat konkret: lebih banyak tim berarti lebih banyak laga, lebih banyak slot siaran, lebih banyak sponsor pasar baru. Menolak menyebut bagian itu, lalu membungkusnya dengan bahasa persatuan dunia, adalah hal yang membuat kami skeptis, bukan idenya, tapi cara idenya dijual.
Bagian yang Tidak Nyaman untuk Kita Sendiri
Jujur saja: buat Indonesia, kuota 64 tim itu menggiurkan. Peluang lolos jelas melebar. Kami paham betul kenapa banyak yang antusias, dan kami tidak akan menghakimi siapa pun yang berharap.
Tapi kami akan bertanya satu hal yang tidak enak: apakah kita ingin lolos, atau ingin bagus? Turnamen yang dihadiri lebih dari seperempat anggota FIFA bukan lagi prestasi, itu daftar hadir. Datang ke Piala Dunia lewat pintu yang dilebarkan lalu kalah 0-4 tiga kali bukan sejarah; itu foto kenangan yang mahal. Yang mengubah nasib sepak bola Indonesia bukan kuota FIFA, melainkan apa yang kita bangun di rumah sendiri.
Penilaian Kami
Prediksi kami: ini akan terus dibahas, ditolak keras UEFA dan CONCACAF, lalu muncul lagi dalam bentuk kompromi, mungkin bukan 64, tapi juga tidak berhenti di 48. Karena arah gerak FIFA selama tiga dekade terakhir hanya satu: membesar. Ceferin benar soal kualitas, tapi sejarah menunjukkan argumen kualitas jarang menang melawan argumen pendapatan.
Sambil menunggu, lihat jalannya Piala Dunia 2026, telusuri sejarah & daftar juaranya, dan pantau sepak bola Indonesia di 2Babak. Dirangkum dari JPNN, Bola.com, Medcom, dan Antara.





๐ฌ Komentar (0)