Skandalnya Bukan FIFA Membatalkan Aturan Penalti, Tapi Mereka Sempat Berniat Mengubahnya di Tengah Turnamen
Berita yang beredar berbunyi: FIFA batal mengubah aturan adu penalti. Semua orang lega, cerita selesai. Menurut kami, itu membaca kalimatnya dan melewatkan seluruh isinya. Skandalnya bukan pembatalan itu, skandalnya adalah FIFA sempat berniat mengubah aturan main di tengah turnamen yang sedang berjalan.
Faktanya begini. Menjelang fase gugur Piala Dunia 2026, FIFA mengajukan proposal ke IFAB untuk mengubah mekanisme lempar koin adu penalti. Selama ini ada dua kali lemparan koin sebelum adu penalti dimulai. Dalam proposal itu, pemenang satu lemparan tunggal berhak memilih menendang lebih dulu atau menentukan sisi gawang, bukan keduanya. Setelah berdiskusi dengan IFAB, FIFA membatalkan rencana tersebut, sehingga seluruh laga yang berlanjut ke adu penalti tetap memakai prosedur lama. Dirangkum dari pemberitaan CNN Indonesia, RRI, Suara.com, dan Beritasatu.
Yang Paling Ironis: Usulannya Justru Masuk Akal
Mari adil sebentar. Ide itu tidak bodoh. Memberi satu pemenang lemparan dua keuntungan sekaligus, urutan menendang dan sisi gawang, memang terasa berlebihan. Menjadikannya satu lemparan, satu pilihan, sebenarnya lebih rapi dan bisa dibilang lebih adil.
Justru itu yang membuat cerita ini menyedihkan. Bukan idenya yang busuk, melainkan caranya. Aturan adalah satu-satunya hal yang wajib beku sebelum peluit pertama. Turnamen bukan ruang uji coba, dan mengubah mekanisme penentu nasib di tengah jalan, sekecil apa pun, merusak kontrak paling dasar dalam olahraga: semua tim bertanding di bawah aturan yang sama, yang mereka ketahui sejak awal.
Bayangkan sebuah tim tersingkir lewat adu penalti dengan prosedur yang baru diketok dua minggu sebelumnya. Tidak ada penjelasan yang akan terdengar cukup.
Dan Perhatikan Siapa yang Menyetop
Ini detail yang menurut kami paling penting, dan justru paling jarang disebut: bukan FIFA yang sadar diri. Rencana itu batal setelah berdiskusi dengan IFAB, badan yang memang berwenang atas Laws of the Game.
Artinya sistemnya bekerja. Ada rem, dan remnya berfungsi. Tapi kenyataan bahwa rem itu perlu diinjak adalah masalahnya sendiri. Kalau ide ini sampai berbentuk proposal resmi, berarti ada meja di dalam FIFA yang menganggap mengubah aturan di tengah Piala Dunia sebagai hal yang wajar dibahas.
Ini Pola, Bukan Insiden
Kami sudah menulis soal wacana Piala Dunia 64 tim yang dilempar sebelum final 2026 ditiup. Kami juga menulis soal rumput MetLife yang dikeluhkan pemain lalu dijual sebagai suvenir. Sekarang aturan adu penalti nyaris diubah di tengah jalan.
Tiga peristiwa, satu benang: lembaga ini terus bergerak lebih cepat daripada kemampuannya berpikir. Setiap kali, ada pihak lain yang harus jadi orang dewasa di ruangan, UEFA, IFAB, atau sekadar akal sehat publik.
Penilaian Kami
Kabar baiknya nyata: adu penalti di sisa turnamen ini berjalan dengan aturan yang sama seperti saat semua tim berangkat dari rumah. Itu sebagaimana mestinya, dan kita tidak perlu berterima kasih kepada siapa pun untuk sesuatu yang seharusnya tidak pernah dipertanyakan.
Prediksi kami: usulan ini akan kembali, kali ini lewat pintu yang benar, dibahas IFAB di luar musim, dan mungkin disahkan. Dan ketika itu terjadi, kami akan mendukungnya. Aturan yang lebih adil layak diperjuangkan. Tapi diperjuangkan sebelum turnamen, bukan di tengah babak gugur, saat sebuah negara bisa pulang gara-gara koin.
Pantau Piala Dunia 2026 dan jadwal & hasil di 2Babak. Dirangkum dari CNN Indonesia, RRI, Suara.com, dan Beritasatu.





๐ฌ Komentar (0)