Liga Digeser ke September demi Piala AFF. Setelah Ini, Daftar Alasan Kita Kosong.
Berita paling besar di kabar ini tidak ada di judulnya. Ia diselipkan sebagai catatan logistik di paragraf keempat, dan bunyinya begini: kickoff Super League 2026/2027 diundur ke September agar tidak berbenturan dengan Piala AFF. Sebuah liga nasional menggeser musimnya demi turnamen yang bahkan tidak diakui kalender FIFA. Itu bukan detail. Itu seluruh ceritanya.
Faktanya begini. Persija Jakarta melepas enam pemain ke pemusatan latihan Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026: Rizky Ridho, Donny Tri Pamungkas, Rayhan Hannan, Shayne Pattynama, Jordi Amat, dan Mauro Zijlstra. Persija menjadi salah satu penyumbang pemain terbanyak. Keenamnya mengikuti TC tahap pertama di Bali pada 5 sampai 11 Juli 2026. Mayoritas skuad Garuda kali ini diisi pemain kompetisi domestik karena turnamen berada di luar kalender FIFA, dan jadwal kompetisi ikut disesuaikan. Dirangkum dari Detik Sport dan VIVA.
Semua Negara Mengeluh Soal Kalender. Kita Menggeser Kalendernya.
Piala AFF di luar jendela FIFA berarti klub tak wajib melepas pemain, dan itu keluhan yang sama di seluruh Asia Tenggara. Semua orang menyebutnya kendala.
Indonesia melakukan sesuatu yang lain. Kita tidak menegosiasikannya, kita tidak mengeluhkannya, kita memindahkan liganya. Klub melepas pemain berombongan, Persija sampai enam sekaligus, dan kompetisi profesional yang menghidupi ribuan orang menyesuaikan tanggal mulainya.
Kami tidak akan berpura-pura itu sepenuhnya sehat. Liga yang mengalah pada timnas adalah liga yang mengakui dirinya nomor dua, dan negara dengan liga kuat tidak pernah perlu melakukan ini. Tapi mari jujur soal apa artinya: tidak ada negara ASEAN lain yang mau membayar semahal itu untuk satu trofi.
Dan Karena Itu, Daftar Alasan Kita Sekarang Kosong
Di sinilah semuanya bertemu. Kami sudah menulis bahwa Indonesia enam kali mencapai final dan nol kali juara dalam 15 edisi, dan bahwa kegagalan kita tidak pernah terletak di daftar nama.
Sekarang lihat apa saja yang sudah diberikan untuk edisi ini. Liganya digeser. Klub-klubnya menyerahkan pemain inti. Pelatihnya dapat 46 nama untuk disaring. Sebagian diaspora bahkan pulang ke liga lokal sehingga tersedia, dan tiga dari enam nama Persija hari ini berasal dari jalur itu.
Artinya untuk pertama kalinya, persiapan tidak bisa dijadikan alasan. Kalau kita gagal lagi, penyebabnya bukan pemain yang tak bisa datang, bukan jadwal yang bentrok, bukan klub yang menahan. Semua itu sudah dihapus satu per satu.
Penilaian Kami
Enam pemain Persija ke Bali dirayakan sebagai gengsi klub. Menurut kami itu cara membaca yang terlalu kecil. Yang sebenarnya terjadi adalah sebuah ekosistem sepak bola menaruh seluruh taruhannya di satu turnamen, secara terbuka, tanpa jaring pengaman.
Prediksi kami: apa pun hasilnya, edisi 2026 akan jadi patokan yang dipakai bertahun-tahun ke depan. Kalau juara, tak akan ada lagi yang bisa bilang trofi ini mustahil tanpa diaspora Eropa. Kalau gagal, kita akhirnya dipaksa menghadapi pertanyaan yang selama 15 edisi berhasil kita hindari: kalau bukan karena pemain, jadwal, atau kesiapan, lalu selama ini apa?
Pantau sepak bola Indonesia dan jadwal & hasil di 2Babak. Dirangkum dari Detik Sport dan VIVA.







๐ฌ Komentar (0)