Enam Kali Final, Nol Juara. Kegagalan Kita Tidak Pernah Ada di Daftar 26 Nama.
Ada satu angka di kabar pemusatan latihan ini yang jauh lebih penting daripada 46 atau 26, dan ia diselipkan sebagai catatan kaki: enam kali final, nol gelar, dalam 15 edisi. Enam kali Indonesia sampai ke laga terakhir. Enam kali pulang tanpa apa-apa. Itu bukan nasib buruk, itu pola. Dan pola tidak diperbaiki oleh seleksi.
Faktanya begini. Timnas Indonesia resmi membuka pemusatan latihan di Bali pada 5 Juli 2026 untuk Piala AFF 2026, yang kini bertajuk ASEAN Hyundai Cup. Ketua Badan Tim Nasional Sumardji menjelaskan seleksi berjalan dua tahap, dari sekitar 46 pemain yang dipantau menjadi sekitar 24 sampai 26 nama pilihan John Herdman. Sumardji menegaskan Indonesia belum pernah juara di level senior dan menyebut momentum 2026 sangat tepat untuk mengubah sejarah. PSSI mengandalkan mayoritas pemain kompetisi domestik karena turnamen ini di luar kalender FIFA. Dirangkum dari Kompas TV, Bola.com, dan Liputan6.
Kita Selalu Memperdebatkan Daftar Nama. Kegagalan Kita Tidak Pernah di Situ.
Setiap dua tahun percakapannya sama persis: siapa dipanggil, siapa dicoret, siapa pantas. Seolah kalau daftarnya benar, gelarnya datang.
Tapi enam final itu membuktikan kebalikannya. Untuk sampai ke final, skuadnya harus sudah cukup bagus. Kamu tidak menembus fase grup, perempat final, dan semifinal turnamen ASEAN dengan pemain yang salah pilih. Enam kali kita membuktikan daftar nama kita layak. Enam kali kita gagal di satu laga terakhir.
Artinya sederhana dan tidak enak didengar: seleksi menjawab pertanyaan yang sudah enam kali kita jawab dengan benar. Yang belum pernah kita jawab adalah apa yang terjadi pada 90 menit terakhir, ketika tekanan datang dan kebiasaan mengambil alih.
Dan "Momentum" Adalah Kata yang Sudah Enam Kali Diucapkan
Kami tidak sedang menyerang Sumardji. Ia mengatakan hal yang wajar dikatakan pejabat federasi menjelang turnamen. Persoalannya, kalimat "momentum tahun ini sangat tepat" bisa dicari arsipnya sebelum setiap edisi, dan bunyinya nyaris identik.
Momentum bukan rencana. Ia tidak bisa dilatih, tidak bisa dipanggil dari bangku cadangan, dan tidak pernah muncul di menit 80 saat unggul satu gol dan lawan menekan. Yang muncul di menit itu cuma satu hal: apa yang sudah dilatih sampai jadi refleks.
Kami menulis persis hal ini soal Norwegia yang kalah dari dirinya sendiri: tim yang unggul lalu rontok bukan kalah karena kualitas, melainkan karena tak punya rencana untuk keadaan unggul. Enam final Indonesia adalah versi panjang dari kalimat itu.
Penilaian Kami
Satu hal yang benar-benar baru tahun ini justru datang dari luar TC. Skuad ini nyaris seluruhnya domestik, karena AFF di luar kalender FIFA. Dan Ragnar Oratmangoen memilih pulang ke Persib sehingga menjadi salah satu dari sedikit yang tersedia. Selebihnya, seperti sudah kami tulis, para diaspora terancam absen.
Prediksi kami: kalau Indonesia sampai final lagi lalu kalah lagi, tidak akan ada yang menyalahkan seleksi 46 menjadi 26, karena memang bukan di situ letaknya. Yang akan disalahkan adalah wasit, lapangan, atau kelelahan. Padahal jawabannya sudah tersedia sejak hari pertama TC dibuka, tertulis di paragraf yang semua orang lewati: enam banding nol.
Pantau sepak bola Indonesia dan jadwal & hasil di 2Babak. Dirangkum dari Kompas TV, Bola.com, dan Liputan6.







๐ฌ Komentar (0)